Mahmoud al-Zahar, seorang pejabat senior Gerakan Perlawanan Hamas, Palestina, menekankan bahwa perwujudan perjuangan Palestina merupakan agenda puncak Gerakan Hamas. Kantor Berita Fars News melaporkan, Rabu, 14/03/12.
“Prinsip-prinsip dan strategi Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas), tetap stabil dan tidak dapat dihilangkan. Saat ini kami sangat kuat dan akan melanjutkan perjuangan di Palestina,” kata al-Zahar, dalam pertemuan resmi dengan Menlu Iran dan Ketua Dewan Tertinggi Keamanan Nasional (SNSC) Saeed Jalili di Tehran, Rabu.
Al-Zahar, yang juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dalam pemerintahan Ismail Haniyeh menjelaskan kepada Jalili tentang perkembangan terbaru dan kondisi akhir di Palestina.
Selama pertemuan itu, Jalili menjelaskan bahwa gelombang besar dari Kebangkitan Islam di wilayah Timur Tengah dan Afrika yang mengakibatkan tergulingnya pemimpin diktator dukungan Barat adalah momen tepat untuk memperkuat perlawanan Islam.
Ia juga menyuarakan dukungan Iran atas perjuangan Palestina, dan menyerukan kepada gerakan-gerakan perlawanan untuk tetap mempertahankan kewaspadaan terhadap plot yang ditetaskan Zionis dan unsur-unsur pendukungnya.
Palestina, bersama dengan dunia Muslim, percaya bahwa revolusi Arab dan pemberontakan rakyat yang terjadi di wilayah akan memberikan hasil yang diinginkan untuk masa depan perjuangan Palestina.
Sejak awal 2011, wilayah ini telah menyaksikan gelombang besar-besaran protes rakyat dan semakin populer yang tumbuh bersama kesadaran dan kewaspadaan masyarakat.
Di Tunisia dunia bisa menyaksikan tergulingnya diktator Zine El Abidine Ben Ali dalam sebuah revolusi populer yang terjadi pada Januari tahun lalu, yang diikuti oleh revolusi rakyat Mesir yang juga berhasil menggulingkan diktator didikan AS, Hosni Mubarak pada bulan Februari 2011.
Sementara Bahrain, Yordania, Kuwait, Arab Saudi, Yaman dan Libya sejak menjadi ajang protes besar-besaran rakyat atas penguasa totaliter mereka, membuat rezim tersebut terpaksa harus melakukan aksi brutalitas dalam membungkam gelombang demonstrasi.
Sementara di Libya, rakyat sudah merayakan kemenangan revolusi setelah diktator di negara itu, Muammar Qaddafi tewas pada bulan Oktober lalu. Dan kini gelombang pemberontakan rakyat tertindas terus berlangsung di beberapa negara Muslim lainnya. [Islam Times/on/Fars News]