Menurut sumber diplomatik, Iran telah menolak usulan dari kelompok 5+1 (lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan Jerman) bahwa pembicaraan bisa diadakan di Norwegia, Swiss, dan Austria, Kantor Berita Fars News melaporkan pada Jumat, 06/04/12.
Dari lama situs Tehran Times yang dinukil oleh Islam Times melaporkan, berbicara mengenai tempat perundingan putaran selanjutnya, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Saeed Jalili dan Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu mengadakan pembicaraan melalui telpon pada Kamis, di mana mereka membahas masalah tempat dan hubungan bilateral dua negara.
Menurut sekretariat SNSC, Davutoglu mengatakan, usulan Iran mengenai tempat perundingan nuklir Iran putaran berikutnya antara Tehran dan Kelompok 5 +1 (lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan Jerman) yang rencananya akan diadakan di Baghdad adalah usulan “bijaksana”.
Namun, menteri luar negeri Turki menyatakan, Istanbul masih siap untuk menjadi tuan rumah perundingan yang dijadwalkan 13 April nanti.
Bahkan, sumber-sumber informasi Irak mengumumkan, Baghdad sudah menyatakan kesiapannya untuk menjadi tuan rumah pembicaraan babak berikutnya antara Iran dan kelompok 5+1 sebagaimana termuat di laman situs the Persian service of the Young Journalists Club's, Selasa, 03/0412.
Istanbul yang sebelumnya secara resmi mengumumkan kesiapannya untuk menjadi tuan rumah perundingan akhirnya tidak diterima oleh Iran. Dilaporkan, Sekretaris Dewan Kebijaksanaan Iran, Mohsen Rezaii pada tanggal 2 April menolak usulan Turki dan mengusulkan perundingan putaran berikutnya antara Iran dan enam negara besar akan diselenggarakan di Baghdad, Beirut atau Damaskus dan bukan Istanbul.
“Mengingat kenyataan bahwa teman-teman kita di Turki telah gagal menghormati beberapa kesepakatan, lebih baik pembicaraan antara Iran dan kelompok p5+1 diselenggarakan di negara lain yang ramah,” kata Rezaii pada saat itu.
Ketidakpastian tempat diadakannya tempat perundingan, menjadikan negara-negara kelompok 5+1 mengusulkan, pembicaraan bisa diadakan di Norwegia, Swiss, dan Austria, namun Iran tetap menolak.
Pada akhir Januari 2011, putaran baru perundingan antara Iran dan negara-negara besar diadakan di Istanbul, tapi tidak ada ketetapan tanggal untuk putaran berikutnya dari perundingan.
Pada akhir pembicaraan di Jenewa pada awal Desember 2010, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Saeed Jalili mengumumkan bahwa Iran dan kelompok P5+1 sepakat, putaran perundingan berikutnya harus fokus pada landasan bersama dan saling menghormati untuk kerjasama.
Namun, kelompok P5+1 mengingkari perjanjian, dan setelah akhir perundingan Jenewa, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton, yang mewakili negara-negara besar dalam negosiasi program nuklir Tehran membacakan pernyataan yang menyebutkan masalah perundingan nuklir Iran babak berikutnya akan fokus pada tindakan dari pejabat Iran yang menimbulkan kecaman keras dunia internasional.
Isu utama pertikaian antara Tehran dan Barat adalah program pengayaan uranium Iran.
Iran mengatakan semua kegiatan nuklirnya benar-benar damai, dan, sebagai anggota Badan Energi Atom Internasional dan penandatangan Perjanjian Nonproliferasi Nuklir, Iran memiliki hak hukum untuk memproduksi bahan bakar nuklir untuk reaktor riset dan PLTN. [Islam Times/on/Tehran Times/Fars News]