Menteri Perminyakan Iran Rostam Qasemi mengatakan negaranya pasti akan menjadi pemenang dari perang ekonomi yang dilancarkan negara-negara Barat terhadap Iran.
“Meskipun sanksi diberlakukan, namun pengembangan industri minyak tidak pernah berhenti dan tidak ada kekurangan materi dan peralatan apapun di dalam negeri,” kata Qasemi Jumat, 25/05/12.
Dia menambahkan, rencana pembangunan untuk 19 fase ladang gas South Pars telah diberikan kepada kontraktor dan produsen Iran yang akan menggantikan peran Royal Shell Belanda dan Total Prancis di lapangan.
“Uni Eropa (UE) menetapkan batas waktu untuk pemberian sanksi pada minyak Iran dan akhirnya sanksi ini menyebabkan peningkatan mendadak harga emas hitam di pasar dunia,” kata Qasemi.
Menteri Iran itu juga mendesak Barat untuk belajar dari kenaikan harga dan menuntut untuk sedikit berperilaku lebih logis.
“Iran tanpa diragukan lagi menjadi pemenang dari perang ekonomi yang dilancarkan Barat,” tambahnya.
Per 23 Januari 2012, para menteri luar negeri negara-negara anggota Uni Eropa bertemu di Brussels dan menyetujui sanksi baru terhadap Iran yang melarang negara anggota mengimpor minyak mentah Iran dan melakukan bisnis dengan Bank Sentral Iran (CBI).
Sanksi-sanksi Uni Eropa itu secara efektif akan berlaku pada 1 Juli. Sebagai respon saksi tersebut, Tehran mengurangi ekspor minyak ke beberapa negara Eropa sebagai bagian dari countersanctions.
Balok kumpulan negara-negara hebat dan kasta wahid itu mengatakan sanksi tersebut untuk melumpuhkan ekonomi Iran dan memberikan tekanan terhadap Iran untuk menghentikan program energi nuklirnya. Namun, Tehran mengatakan tindakan seperti itu akan menjadi bumerang dan menyebabkan harga yang lebih tinggi di pasar minyak global. [Islam Times/on/Press TV]