Dirjen IAEA, Yukiya Amano pada Jumat (25/5/12) mengeluarkan laporan terbarunya mengenai program nuklir sipil Iran sekitar sehari setelah berakhirnya perundingan antara Iran dan kelompok 5+1 di Baghdad.
Dalam laporan itu, Amano menegaskan tidak adanya penyimpangan dalam program nuklir Iran dan selalu dalam pengawasan IAEA. Meski secara umum laporan tersebut positif, namun tetap saja Dirjen IAEA menyelipkan keraguan mengenai status sipil program nuklir Iran sebagaimana laporan-laporan sebelumnya.
Dalam laporan terbarunya tersebut dia mengutip pernyataan inspektur IAEA yang menyinggung indikasi produksi uranium dengan kadar pengayaan 27 persen. Tapi, jika pun pengayaan uranium lebih dari 20 persen sama sekali tidak menunjukkan bahwa program Iran mengarah pada produksi senjata nuklir.
Menurut Republik Islam Iran, pengayaan uranium dengan kadar lebih dari 20 persen yang dilakukannya semata-mata untuk kepentingan sipil, terutama memenuhi bahan bakar reaktor riset Tehran. Reaktor itu digunakan untuk riset nuklir medis, produksi radiofarmasi yang dibutuhkan pasien cancer di Iran.
Selain itu, seluruh aktivitas reaktor nuklir sipil Tehran juga berada dalam pengawasan penuh IAEA.
Dalam negoisasi yang digelar di Baghdad kemarin, Iran membuktikan konsistensi sikapnya dengan menjalin kerjasama yang baik dengan IAEA. Tehran secara transparan menjawab semua pertanyaan yang diajukan Catherine Ashton, ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa.
Menanggapi laporan terbaru dari Dirjen IAEA, Amano, Wakil Tetap Republik Islam Iran di Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memperingatkan upaya sejumlah media Barat yang ingin mempolitisir pembahasan teknis dalam laporan terbaru Sekjen IAEA, Yukiya Amano.
Menukil laporan dari Kantor Berita IRNA, Ali Asghar Soltanieh pada Sabtu (26/5/12) mengatakan, “Hal itu menunjukkan bahwa sejumlah pihak berupaya merusak kerjasama konstruktif antara Tehran dan IAEA.”
Duta Besar Iran untuk IAEA menyinggung klaim sejumlah media Barat tentang penemuan tanda-tanda bahwa Iran memproduksi uranium hingga 27 persen. Soltanieh mengatakan, “Seperti dilaporkan IAEA, hal itu adalah pembahasan teknis biasa dan saat ini sedang dievaluasi oleh para pakar.”
Lebih lanjut, Soltanieh menandaskan, pembahasan masalah kecil dan teknis ini, juga kerap terjadi di instalasi pengayaan uranium di berbagai negara lain, mengindikasikan bahwa ada tujuan politis di balik itu.
Di bagian lain pernyataannya, Soltanieh menegaskan bahwa laporan yang telah diberikan kepada Dewan Gubernur IAEA merupakan dokumen bersejarah lain yang membuktikan aktivitas damai nuklir Iran dan klaim-klaim terhadap penyelewengan nuklir negara ini sepenuhnya tidak berdasar. [Islam Times/on/Press TV/Fars News Agency]